Ketika berbicara tentang ekonomi global, satu indikator menarik perhatian analis dan investor: negara mana yang paling miskin di dunia? Pertanyaan ini melampaui sekadar peringkat numerik — ia mengungkap siklus kemiskinan struktural, ketidakstabilan politik, dan tantangan yang mempengaruhi miliaran orang. Dalam artikel ini, kami mengeksplorasi negara-negara dengan PDB per kapita terendah pada tahun 2025 dan faktor ekonomi, sosial, serta politik yang mempertahankan situasi tersebut.
Data: di mana konsentrasi kemiskinan ekstrem?
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa negara paling miskin di dunia adalah Sudan Selatan, dengan PDB per kapita sekitar US$ 960. Namun, kenyataan ini tidak berdiri sendiri — ia merupakan bagian dari pola geografis yang jelas.
Sepuluh negara dengan PDB per kapita (dalam dolar AS):
Posisi
Negara
PDB per kapita (US$)
1
Sudan Selatan
960
2
Burundi
1.010
3
Republik Afrika Tengah
1.310
4
Malawi
1.760
5
Mozambik
1.790
6
Somalia
1.900
7
Republik Demokratik Kongo
1.910
8
Liberia
2.000
9
Yaman
2.020
10
Madagaskar
2.060
Konsentrasi negara-negara ini di Afrika Sub-Sahara bukanlah kebetulan — mencerminkan tantangan struktural yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
Mengapa negara paling miskin di dunia tetap dalam kondisi ini?
Memahami mengapa negara-negara ini tetap termasuk yang termiskin membutuhkan pandangan di luar angka. Empat faktor utama menjelaskan realitas ini:
Konflik bersenjata dan ketidakstabilan politik
Perang saudara, kudeta, dan kekerasan berkepanjangan menguras sumber daya publik, menjauhkan investor internasional, dan merusak infrastruktur penting. Di Sudan Selatan, Somalia, dan Republik Afrika Tengah, puluhan tahun konflik membuat pembangunan institusi yang kuat atau ekonomi yang layak menjadi tidak mungkin.
Ekonomi yang kurang terstruktur
Sebagian besar negara ini bergantung pada pertanian subsisten atau penjualan komoditas primer — minyak, mineral, produk pertanian — tanpa mengembangkan industri atau sektor jasa. Kurangnya diversifikasi ini membuat mereka sangat rentan terhadap fluktuasi harga internasional dan bencana iklim.
Investasi yang tidak cukup dalam pembangunan manusia
Pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur sanitasi tetap buruk. Akibatnya, populasi memiliki produktivitas rendah dan peluang pertumbuhan ekonomi jangka panjang terbatas.
Pertumbuhan demografis yang cepat
Ketika populasi tumbuh lebih cepat dari ekonomi, PDB per kapita stagnan atau menurun, meskipun total produksi meningkat. Fenomena ini memperbesar tekanan pada layanan publik dan menurunkan pendapatan rata-rata per penduduk.
Bersama-sama, faktor-faktor ini menciptakan lingkaran setan kemiskinan struktural yang sulit diputus.
Negara paling miskin di dunia dalam perspektif: analisis khusus
Sudan Selatan — negara paling miskin di dunia
Sejak kemerdekaannya pada 2011, Sudan Selatan menghadapi ketidakstabilan terus-menerus. Meski memiliki cadangan minyak yang signifikan, kekurangan tata kelola yang solid menghalangi kekayaan ini sampai ke rakyat. Konflik etnis dan kurangnya institusi yang efektif menjaga negara ini di puncak kemiskinan global.
Burundi, Republik Afrika Tengah, dan Malawi
Burundi tetap pedesaan dan agraris, dengan kemiskinan struktural yang diperburuk oleh puluhan tahun ketidakstabilan. Republik Afrika Tengah memiliki sumber daya mineral berharga, tetapi menghadapi keruntuhan institusi dan perpindahan penduduk yang terus-menerus. Malawi, di sisi lain, menderita ketergantungan pada pertanian dan kerentanan terhadap kekeringan yang diperburuk oleh pemanasan global.
Republik Demokratik Kongo dan Somalia
Keduanya menunjukkan paradoks umum: kekayaan sumber daya alam yang dikombinasikan dengan tata kelola yang lemah. Kongo memiliki emas, berlian, dan tembaga, tetapi korupsi dan konflik bersenjata menghalangi manfaat bagi rakyat. Somalia, setelah perang saudara berkepanjangan, hidup tanpa institusi negara yang mapan dan ekonomi informal yang dominan.
Yaman — pengecualian di luar Afrika
Satu-satunya negara dalam Top 10 yang berada di luar Afrika, Yaman menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terbesar saat ini. Perang saudara yang dimulai pada 2014 menghancurkan ekonomi, mengganggu akses ke makanan dan obat-obatan, dan meninggalkan rakyat dalam situasi yang sangat mengerikan.
Apa yang diungkapkan data tentang negara paling miskin di dunia?
Mengidentifikasi negara paling miskin di dunia penting, tetapi memahami penyebab dasarnya sangat krusial. Angka-angka ini mengungkap tantangan global nyata: kesulitan membangun institusi yang tangguh, kerentanan ekonomi yang bergantung pada komoditas, dan urgensi kebijakan pembangunan berkelanjutan.
Bagi analis pasar dan investor, pemahaman ini menawarkan wawasan berharga tentang risiko geopolitik, siklus ekonomi, dan dinamika pasar. Mengakui negara-negara paling miskin di dunia membantu memetakan di mana tantangan kemanusiaan kritis ada dan di mana kebijakan internasional dapat memberikan dampak terbesar.
Belajar tentang realitas ekonomi global — termasuk wilayah dan negara yang menghadapi kemiskinan tertinggi — adalah langkah awal untuk berinvestasi dengan informasi berkualitas dan pemahaman konteks yang kompleks.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Sepuluh negara dengan PDB per kapita terendah di dunia pada tahun 2025: apa yang menjelaskan kenyataan ini
Ketika berbicara tentang ekonomi global, satu indikator menarik perhatian analis dan investor: negara mana yang paling miskin di dunia? Pertanyaan ini melampaui sekadar peringkat numerik — ia mengungkap siklus kemiskinan struktural, ketidakstabilan politik, dan tantangan yang mempengaruhi miliaran orang. Dalam artikel ini, kami mengeksplorasi negara-negara dengan PDB per kapita terendah pada tahun 2025 dan faktor ekonomi, sosial, serta politik yang mempertahankan situasi tersebut.
Data: di mana konsentrasi kemiskinan ekstrem?
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa negara paling miskin di dunia adalah Sudan Selatan, dengan PDB per kapita sekitar US$ 960. Namun, kenyataan ini tidak berdiri sendiri — ia merupakan bagian dari pola geografis yang jelas.
Sepuluh negara dengan PDB per kapita (dalam dolar AS):
Konsentrasi negara-negara ini di Afrika Sub-Sahara bukanlah kebetulan — mencerminkan tantangan struktural yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
Mengapa negara paling miskin di dunia tetap dalam kondisi ini?
Memahami mengapa negara-negara ini tetap termasuk yang termiskin membutuhkan pandangan di luar angka. Empat faktor utama menjelaskan realitas ini:
Konflik bersenjata dan ketidakstabilan politik
Perang saudara, kudeta, dan kekerasan berkepanjangan menguras sumber daya publik, menjauhkan investor internasional, dan merusak infrastruktur penting. Di Sudan Selatan, Somalia, dan Republik Afrika Tengah, puluhan tahun konflik membuat pembangunan institusi yang kuat atau ekonomi yang layak menjadi tidak mungkin.
Ekonomi yang kurang terstruktur
Sebagian besar negara ini bergantung pada pertanian subsisten atau penjualan komoditas primer — minyak, mineral, produk pertanian — tanpa mengembangkan industri atau sektor jasa. Kurangnya diversifikasi ini membuat mereka sangat rentan terhadap fluktuasi harga internasional dan bencana iklim.
Investasi yang tidak cukup dalam pembangunan manusia
Pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur sanitasi tetap buruk. Akibatnya, populasi memiliki produktivitas rendah dan peluang pertumbuhan ekonomi jangka panjang terbatas.
Pertumbuhan demografis yang cepat
Ketika populasi tumbuh lebih cepat dari ekonomi, PDB per kapita stagnan atau menurun, meskipun total produksi meningkat. Fenomena ini memperbesar tekanan pada layanan publik dan menurunkan pendapatan rata-rata per penduduk.
Bersama-sama, faktor-faktor ini menciptakan lingkaran setan kemiskinan struktural yang sulit diputus.
Negara paling miskin di dunia dalam perspektif: analisis khusus
Sudan Selatan — negara paling miskin di dunia
Sejak kemerdekaannya pada 2011, Sudan Selatan menghadapi ketidakstabilan terus-menerus. Meski memiliki cadangan minyak yang signifikan, kekurangan tata kelola yang solid menghalangi kekayaan ini sampai ke rakyat. Konflik etnis dan kurangnya institusi yang efektif menjaga negara ini di puncak kemiskinan global.
Burundi, Republik Afrika Tengah, dan Malawi
Burundi tetap pedesaan dan agraris, dengan kemiskinan struktural yang diperburuk oleh puluhan tahun ketidakstabilan. Republik Afrika Tengah memiliki sumber daya mineral berharga, tetapi menghadapi keruntuhan institusi dan perpindahan penduduk yang terus-menerus. Malawi, di sisi lain, menderita ketergantungan pada pertanian dan kerentanan terhadap kekeringan yang diperburuk oleh pemanasan global.
Republik Demokratik Kongo dan Somalia
Keduanya menunjukkan paradoks umum: kekayaan sumber daya alam yang dikombinasikan dengan tata kelola yang lemah. Kongo memiliki emas, berlian, dan tembaga, tetapi korupsi dan konflik bersenjata menghalangi manfaat bagi rakyat. Somalia, setelah perang saudara berkepanjangan, hidup tanpa institusi negara yang mapan dan ekonomi informal yang dominan.
Yaman — pengecualian di luar Afrika
Satu-satunya negara dalam Top 10 yang berada di luar Afrika, Yaman menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terbesar saat ini. Perang saudara yang dimulai pada 2014 menghancurkan ekonomi, mengganggu akses ke makanan dan obat-obatan, dan meninggalkan rakyat dalam situasi yang sangat mengerikan.
Apa yang diungkapkan data tentang negara paling miskin di dunia?
Mengidentifikasi negara paling miskin di dunia penting, tetapi memahami penyebab dasarnya sangat krusial. Angka-angka ini mengungkap tantangan global nyata: kesulitan membangun institusi yang tangguh, kerentanan ekonomi yang bergantung pada komoditas, dan urgensi kebijakan pembangunan berkelanjutan.
Bagi analis pasar dan investor, pemahaman ini menawarkan wawasan berharga tentang risiko geopolitik, siklus ekonomi, dan dinamika pasar. Mengakui negara-negara paling miskin di dunia membantu memetakan di mana tantangan kemanusiaan kritis ada dan di mana kebijakan internasional dapat memberikan dampak terbesar.
Belajar tentang realitas ekonomi global — termasuk wilayah dan negara yang menghadapi kemiskinan tertinggi — adalah langkah awal untuk berinvestasi dengan informasi berkualitas dan pemahaman konteks yang kompleks.