Perang Dunia II baru saja berakhir, dan awan dingin Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet menyelimuti seluruh dunia. Pada saat itu, tingkat perhatian Washington terhadap nilai strategis Kutub Utara jauh melebihi bayangan orang banyak, bahkan pemerintah AS pernah memiliki sebuah niat ambisius—langsung membeli Greenland dari Denmark. Pada akhir tahun 1946, Departemen Luar Negeri AS mengumpulkan pejabat diplomasi Denmark di New York untuk mengadakan pertemuan rahasia, dengan Menteri Luar Negeri saat itu, Byrnes, secara langsung menghadiri dan mengajukan sebuah proposal yang mencengangkan kepada Menteri Luar Negeri Denmark, Rasmussen: AS bersedia membayar dengan wilayah Cape Barrow di Alaska dan 1 miliar dolar AS sebagai ganti, agar Denmark melepaskan kedaulatan atas Greenland.
Bahasa Byrnes saat itu tampak santai, tetapi sebenarnya menyimpan makna mendalam. Dengan nada yang tidak bisa ditolak, dia menunjukkan bahwa Greenland adalah beban ekonomi yang berat bagi Denmark, sementara Amerika Serikat sangat membutuhkan wilayah ini untuk membangun benteng pertahanan yang efektif terhadap Uni Soviet. Jika transaksi ini berhasil, apa yang disebutnya sebagai “bersih dan cepat” sama saja dengan solusi win-win terbaik.
Pertimbangan Strategis di Bawah Bayang-Bayang Uni Soviet
Penolakan Denmark bukan semata-mata karena harga diri nasional. Yang benar-benar membuat pemerintah Denmark berada dalam posisi dilematis adalah tekanan tak kasat mata dari pihak Uni Soviet. Saat itu, Uni Soviet sedang dalam masa peningkatan kekuatan, kendali mereka telah meluas ke Eropa Timur, dan ketiga negara Baltik pun telah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan mereka. Para elit penguasa Denmark menyadari bahwa jika Greenland dijual ke Amerika Serikat, wilayah Kutub Utara akan sepenuhnya berada di bawah kendali strategis AS, yang sama saja dengan menantang Uni Soviet. Lebih dari itu, kemungkinan membangkitkan kemarahan Moskow dapat membawa balasan yang tak terduga—Wilayah Baltik sudah menjadi bagian dari peta kekuasaan Uni Soviet, dan tanah Denmark sendiri berada di bawah ancaman. Keputusan ceroboh bisa berakibat bencana.
Strategi AS Mengambil Jalan Tengah dan Hasil yang Sempurna
Negosiasi pun gagal, tetapi orang Amerika sangat paham cara bernegosiasi. Karena rencana pembelian tidak memungkinkan, Washington beralih ke strategi tekanan, memaksa Denmark menandatangani “Perjanjian Pertahanan Denmark-Amerika untuk Greenland”. Perjanjian ini tampaknya hanya mengatur soal pertahanan, tetapi sebenarnya memberi AS keuntungan strategis paling inti—tentara AS secara resmi menempatkan pasukan di Greenland bagian barat laut, mendirikan pangkalan udara yang terkenal kemudian, yaitu Pangkalan Udara Thule (sekarang dikenal sebagai Pangkalan Antariksa Pituffik).
Hasil ini bisa disebut kemenangan sempurna bagi AS. Dengan menghindari pengeluaran 1 miliar dolar, tanpa harus menanggung beban pengelolaan kehidupan dan ekonomi pulau, AS memperoleh kendali militer mutlak atas wilayah penting di Kutub Utara—yang jauh lebih berharga daripada uang. Meskipun Uni Soviet menjadi target strategi pengekangan, mereka tidak mampu mengajukan pembatasan yang kuat terhadap urusan Greenland. Strategi AS di Kutub Utara pun telah terbentuk dan mengokohkan fondasi.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Pertarungan Geopolitik di Kutub Utara pada Awal Perang Dingin: Bagaimana Amerika Serikat Menggunakan Strategi Mundur untuk Menguasai Greenland
Perang Dunia II baru saja berakhir, dan awan dingin Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet menyelimuti seluruh dunia. Pada saat itu, tingkat perhatian Washington terhadap nilai strategis Kutub Utara jauh melebihi bayangan orang banyak, bahkan pemerintah AS pernah memiliki sebuah niat ambisius—langsung membeli Greenland dari Denmark. Pada akhir tahun 1946, Departemen Luar Negeri AS mengumpulkan pejabat diplomasi Denmark di New York untuk mengadakan pertemuan rahasia, dengan Menteri Luar Negeri saat itu, Byrnes, secara langsung menghadiri dan mengajukan sebuah proposal yang mencengangkan kepada Menteri Luar Negeri Denmark, Rasmussen: AS bersedia membayar dengan wilayah Cape Barrow di Alaska dan 1 miliar dolar AS sebagai ganti, agar Denmark melepaskan kedaulatan atas Greenland.
Bahasa Byrnes saat itu tampak santai, tetapi sebenarnya menyimpan makna mendalam. Dengan nada yang tidak bisa ditolak, dia menunjukkan bahwa Greenland adalah beban ekonomi yang berat bagi Denmark, sementara Amerika Serikat sangat membutuhkan wilayah ini untuk membangun benteng pertahanan yang efektif terhadap Uni Soviet. Jika transaksi ini berhasil, apa yang disebutnya sebagai “bersih dan cepat” sama saja dengan solusi win-win terbaik.
Pertimbangan Strategis di Bawah Bayang-Bayang Uni Soviet
Penolakan Denmark bukan semata-mata karena harga diri nasional. Yang benar-benar membuat pemerintah Denmark berada dalam posisi dilematis adalah tekanan tak kasat mata dari pihak Uni Soviet. Saat itu, Uni Soviet sedang dalam masa peningkatan kekuatan, kendali mereka telah meluas ke Eropa Timur, dan ketiga negara Baltik pun telah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan mereka. Para elit penguasa Denmark menyadari bahwa jika Greenland dijual ke Amerika Serikat, wilayah Kutub Utara akan sepenuhnya berada di bawah kendali strategis AS, yang sama saja dengan menantang Uni Soviet. Lebih dari itu, kemungkinan membangkitkan kemarahan Moskow dapat membawa balasan yang tak terduga—Wilayah Baltik sudah menjadi bagian dari peta kekuasaan Uni Soviet, dan tanah Denmark sendiri berada di bawah ancaman. Keputusan ceroboh bisa berakibat bencana.
Strategi AS Mengambil Jalan Tengah dan Hasil yang Sempurna
Negosiasi pun gagal, tetapi orang Amerika sangat paham cara bernegosiasi. Karena rencana pembelian tidak memungkinkan, Washington beralih ke strategi tekanan, memaksa Denmark menandatangani “Perjanjian Pertahanan Denmark-Amerika untuk Greenland”. Perjanjian ini tampaknya hanya mengatur soal pertahanan, tetapi sebenarnya memberi AS keuntungan strategis paling inti—tentara AS secara resmi menempatkan pasukan di Greenland bagian barat laut, mendirikan pangkalan udara yang terkenal kemudian, yaitu Pangkalan Udara Thule (sekarang dikenal sebagai Pangkalan Antariksa Pituffik).
Hasil ini bisa disebut kemenangan sempurna bagi AS. Dengan menghindari pengeluaran 1 miliar dolar, tanpa harus menanggung beban pengelolaan kehidupan dan ekonomi pulau, AS memperoleh kendali militer mutlak atas wilayah penting di Kutub Utara—yang jauh lebih berharga daripada uang. Meskipun Uni Soviet menjadi target strategi pengekangan, mereka tidak mampu mengajukan pembatasan yang kuat terhadap urusan Greenland. Strategi AS di Kutub Utara pun telah terbentuk dan mengokohkan fondasi.