Selama 2023, India secara signifikan mengurangi portofolio obligasi Treasury AS-nya, mencatat penurunan sebesar $174 miliar, setara dengan penurunan 26% dari level tertinggi yang dicapai. Gerakan ini menandai titik terendah dalam lima tahun terakhir untuk kepemilikan utang pemerintah AS oleh negara Asia tersebut. Menurut data dari NS3.AI, bank sentral India telah secara strategis mengalihkan aset dolar mereka ke logam mulia, terutama emas, dengan tujuan menstabilkan rupee menghadapi tekanan depresiasi.
Alasan di balik penarikan obligasi AS
Keputusan bank sentral India ini disebabkan oleh tantangan makroekonomi internal. Rupee menghadapi tekanan depresiasi di pasar global, yang mendorong otoritas moneter untuk mencari instrumen yang lebih stabil untuk mendukung mata uang lokal. Pengalihan cadangan ke emas dan komoditas lain merupakan strategi defensif untuk memperkuat posisi mata uang dan menjaga kepercayaan terhadap ekonomi.
Rebalancing aset ini sangat penting mengingat obligasi Treasury secara historis dianggap sebagai investasi yang aman. Namun, volatilitas di pasar fixed income global dan fluktuasi suku bunga telah mendorong berbagai pelaku untuk mendiversifikasi portofolio mereka.
Strategi diversifikasi yang lebih luas dari BRICS
Tindakan India ini tidak berdiri sendiri. Gerakan ini sejalan dengan tren geopolitik yang lebih luas di antara negara-negara BRICS, yang berupaya mengurangi ketergantungan mereka pada instrumen yang denominasi dalam dolar AS. Brasil, Rusia, China, dan Afrika Selatan juga secara bertahap meningkatkan cadangan emas mereka dan mendiversifikasi ke aset yang denominasi dalam mata uang lain.
Pengalihan kolektif BRICS ke komoditas mencerminkan upaya terkoordinasi untuk membangun alternatif sistem keuangan internasional tradisional, mencari otonomi moneter yang lebih besar dan mengurangi eksposur terhadap obligasi AS sebagai kendaraan cadangan.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
India mengurangi obligasi surat utang negara menjadi level terendah lima tahun di tahun 2023
Selama 2023, India secara signifikan mengurangi portofolio obligasi Treasury AS-nya, mencatat penurunan sebesar $174 miliar, setara dengan penurunan 26% dari level tertinggi yang dicapai. Gerakan ini menandai titik terendah dalam lima tahun terakhir untuk kepemilikan utang pemerintah AS oleh negara Asia tersebut. Menurut data dari NS3.AI, bank sentral India telah secara strategis mengalihkan aset dolar mereka ke logam mulia, terutama emas, dengan tujuan menstabilkan rupee menghadapi tekanan depresiasi.
Alasan di balik penarikan obligasi AS
Keputusan bank sentral India ini disebabkan oleh tantangan makroekonomi internal. Rupee menghadapi tekanan depresiasi di pasar global, yang mendorong otoritas moneter untuk mencari instrumen yang lebih stabil untuk mendukung mata uang lokal. Pengalihan cadangan ke emas dan komoditas lain merupakan strategi defensif untuk memperkuat posisi mata uang dan menjaga kepercayaan terhadap ekonomi.
Rebalancing aset ini sangat penting mengingat obligasi Treasury secara historis dianggap sebagai investasi yang aman. Namun, volatilitas di pasar fixed income global dan fluktuasi suku bunga telah mendorong berbagai pelaku untuk mendiversifikasi portofolio mereka.
Strategi diversifikasi yang lebih luas dari BRICS
Tindakan India ini tidak berdiri sendiri. Gerakan ini sejalan dengan tren geopolitik yang lebih luas di antara negara-negara BRICS, yang berupaya mengurangi ketergantungan mereka pada instrumen yang denominasi dalam dolar AS. Brasil, Rusia, China, dan Afrika Selatan juga secara bertahap meningkatkan cadangan emas mereka dan mendiversifikasi ke aset yang denominasi dalam mata uang lain.
Pengalihan kolektif BRICS ke komoditas mencerminkan upaya terkoordinasi untuk membangun alternatif sistem keuangan internasional tradisional, mencari otonomi moneter yang lebih besar dan mengurangi eksposur terhadap obligasi AS sebagai kendaraan cadangan.