Afrika sedang menyaksikan tonggak sejarah dalam bidang energi terbarukan. Menurut laporan dari Dewan Energi Surya Global (GSC) yang dirilis pada bulan Januari, industri tenaga surya di benua ini telah memasuki tahap perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Informasi dari Jin10 menunjukkan bahwa pendorong utama di balik ledakan ini adalah peningkatan besar dalam proyek skala utilitas di seluruh wilayah.
Ledakan proyek skala besar mendorong perubahan
Tahun 2025 telah menjadi titik balik bagi pengembangan tenaga surya di Afrika. Benua ini menambahkan kapasitas tenaga surya sebesar 4,5 gigawatt, yaitu pertumbuhan yang mengesankan sebesar 54% dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui rekor yang ditetapkan pada tahun 2023. Pertumbuhan ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari strategi pengembangan infrastruktur energi bersih di banyak negara di benua ini.
GSC memperkirakan bahwa jika tren ini berlanjut dengan kecepatan saat ini, kapasitas tenaga surya tahunan Afrika dapat meningkat enam kali lipat pada tahun 2029, mencapai lebih dari 33 gigawatt. Ini akan menandai transformasi menyeluruh dalam konteks energi Afrika.
Afrika Selatan memimpin, Nigeria dan Mesir memperkuat implementasi
Ketika melihat distribusi kapasitas, gambaran yang lebih jelas muncul dari data spesifik. Afrika Selatan mempertahankan posisi terdepan di benua ini dengan kapasitas terpasang mencapai 1,6 gigawatt, menunjukkan dominasi negara ini dalam bidang energi terbarukan. Nigeria dan Mesir mengikuti di belakang, masing-masing mengimplementasikan 803 megawatt dan 500 megawatt kapasitas baru.
Distribusi ini mencerminkan strategi regional yang membantu banyak negara secara bersamaan memperluas kapasitas energi bersih. Negara-negara ini tidak hanya fokus pada proyek skala utilitas besar, tetapi juga mengembangkan pasar distribusi energi surya dalam skala lebih kecil, menciptakan ekosistem energi terbarukan yang komprehensif.
Harapan 33 gigawatt pada 2029: Masa depan cerah energi bersih
Prospek jangka panjang industri tenaga surya Afrika sangat optimis. Seiring infrastruktur dan teknologi terus berkembang, prediksi menunjukkan bahwa total kapasitas tahunan dapat mencapai rekor 33 gigawatt atau lebih sebelum tahun 2029. Perjalanan dari 4,5 gigawatt pada tahun 2025 ke 33 gigawatt pada tahun 2029 tidak hanya menunjukkan pertumbuhan angka, tetapi juga menjadi simbol transisi energi berkelanjutan di benua ini.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Energi surya Afrika memasuki tahap pertumbuhan pesat mulai tahun 2025
Afrika sedang menyaksikan tonggak sejarah dalam bidang energi terbarukan. Menurut laporan dari Dewan Energi Surya Global (GSC) yang dirilis pada bulan Januari, industri tenaga surya di benua ini telah memasuki tahap perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Informasi dari Jin10 menunjukkan bahwa pendorong utama di balik ledakan ini adalah peningkatan besar dalam proyek skala utilitas di seluruh wilayah.
Ledakan proyek skala besar mendorong perubahan
Tahun 2025 telah menjadi titik balik bagi pengembangan tenaga surya di Afrika. Benua ini menambahkan kapasitas tenaga surya sebesar 4,5 gigawatt, yaitu pertumbuhan yang mengesankan sebesar 54% dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui rekor yang ditetapkan pada tahun 2023. Pertumbuhan ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari strategi pengembangan infrastruktur energi bersih di banyak negara di benua ini.
GSC memperkirakan bahwa jika tren ini berlanjut dengan kecepatan saat ini, kapasitas tenaga surya tahunan Afrika dapat meningkat enam kali lipat pada tahun 2029, mencapai lebih dari 33 gigawatt. Ini akan menandai transformasi menyeluruh dalam konteks energi Afrika.
Afrika Selatan memimpin, Nigeria dan Mesir memperkuat implementasi
Ketika melihat distribusi kapasitas, gambaran yang lebih jelas muncul dari data spesifik. Afrika Selatan mempertahankan posisi terdepan di benua ini dengan kapasitas terpasang mencapai 1,6 gigawatt, menunjukkan dominasi negara ini dalam bidang energi terbarukan. Nigeria dan Mesir mengikuti di belakang, masing-masing mengimplementasikan 803 megawatt dan 500 megawatt kapasitas baru.
Distribusi ini mencerminkan strategi regional yang membantu banyak negara secara bersamaan memperluas kapasitas energi bersih. Negara-negara ini tidak hanya fokus pada proyek skala utilitas besar, tetapi juga mengembangkan pasar distribusi energi surya dalam skala lebih kecil, menciptakan ekosistem energi terbarukan yang komprehensif.
Harapan 33 gigawatt pada 2029: Masa depan cerah energi bersih
Prospek jangka panjang industri tenaga surya Afrika sangat optimis. Seiring infrastruktur dan teknologi terus berkembang, prediksi menunjukkan bahwa total kapasitas tahunan dapat mencapai rekor 33 gigawatt atau lebih sebelum tahun 2029. Perjalanan dari 4,5 gigawatt pada tahun 2025 ke 33 gigawatt pada tahun 2029 tidak hanya menunjukkan pertumbuhan angka, tetapi juga menjadi simbol transisi energi berkelanjutan di benua ini.