Dalam konteks perubahan besar dalam pola geopolitik dan ekonomi global, emas sedang mendefinisikan kembali posisi strategisnya dalam portofolio investasi. Ekonom terkenal Jim Rickards dalam wawancara terbaru menyatakan bahwa berbagai faktor yang mendorong kenaikan pasar logam akan terus berpengaruh tahun ini, dan tidak akan terkejut jika harga emas mencapai 10.000 dolar AS pada 2026. Pandangan ini mencerminkan pengakuan mendalam dari elit Wall Street terhadap tren jangka panjang emas.
Emas spot baru-baru ini menembus level tertinggi sejarah, menembus rekor 4880 dolar AS per ons. Kenaikan ini langsung dipicu oleh langkah terbaru Gedung Putih terkait perdagangan internasional, yang membangkitkan kekhawatiran pasar terhadap gesekan perdagangan global. Hingga saat ini, emas spot berfluktuasi di sekitar 4860 dolar AS per ons. Setelah kenaikan historis lebih dari 60% pada 2025, emas melanjutkan momentum kuat tahun ini, menjadi instrumen yang paling menarik dalam alokasi aset.
Ketegangan geopolitik, penurunan suku bunga riil, serta diversifikasi portofolio oleh bank sentral dan investor swasta melalui “de-dolarisasi” — ketiga faktor ini secara bersama-sama mendorong harga emas naik. Dalam lingkungan makro seperti ini, peran emas sebagai “aset perlindungan terakhir” semakin diperkuat secara tak tertandingi.
Resonansi dari Pandangan Otoritatif: Ekspektasi dari 5000 ke 10000 Dolar AS
Performa harga emas yang kuat mendorong lembaga keuangan global untuk menyesuaikan kembali ekspektasi pasar. Survei LBMA menunjukkan bahwa analis yang diwawancarai secara umum memperkirakan harga emas akan menembus angka 5000 dolar AS. Sementara itu, pandangan para analis terus meningkat.
Julia Du, kepala strategi komoditas di ICBC Standard Bank, memperkirakan harga emas berpotensi melonjak hingga 7150 dolar AS. Prediksi yang lebih agresif bahkan mengarah ke angka lima digit. Ed Yardeni, pendiri Yardeni Research, mengajukan sebuah hipotesis menarik: jika indeks S&P 500 mencapai 10.000 poin di akhir dekade ini, emas sebagai alat penyeimbang portofolio kemungkinan juga akan mencapai 10.000 dolar AS per ons.
Ekonom Jim Rickards secara makro menyatakan pendapatnya. Ia menyebut saat ini sebagai “dekade 2020-an yang mengaum”, yang mencerminkan pengamatannya terhadap karakteristik zaman ini secara mendalam. Dalam siklus besar seperti ini, melewati angka satu juta dolar per ons bukanlah hal yang mustahil, melainkan hasil alami dari ketidakseimbangan makro dan ketidakpastian politik yang terus meningkat.
Sebuah survei dari Goldman Sachs semakin menguatkan konsensus bullish di pasar. 42% dari lembaga yang disurvei memperkirakan harga emas akan rebound ke kisaran 5000-6000 dolar, sementara 10% lainnya memandang lebih tinggi dari 6000 dolar. Suara bearish sangat minim, hanya sekitar satu digit persen. Posisi mayoritas yang sangat bullish ini menunjukkan bahwa pandangan Jim Rickards sangat selaras dengan arus utama pasar.
Permintaan Struktural Jangka Panjang Menggantikan Puncak Spekulatif
Dalam menilai reli harga emas ini, pertanyaan utama adalah: apakah ini merupakan puncak spekulatif, atau awal dari tren jangka panjang yang baru?
Nicky Shiels, kepala strategi logam mulia di MKS PAMP, memberikan jawaban tegas: siklus saat ini adalah tren jangka panjang, bukan puncak spekulatif. Ia memperkirakan harga emas akan mencapai 5400 dolar tahun ini, naik sekitar 30% dari kenaikan historis tahun lalu.
Shiels menegaskan bahwa ketegangan geopolitik tidak mereda, malah semakin menjadi norma baru. Dari aksi Amerika di Venezuela hingga klaim kontrol Washington atas Greenland, konflik-konflik terbaru ini semakin mendorong investor menuju emas. Dunia sedang memasuki era di mana kebutuhan untuk memastikan pasokan logam dan komoditas penting sangat mendesak, dan kebutuhan struktural ini akan menopang kenaikan harga emas lebih lanjut, tanpa menimbulkan fenomena “ledakan harga” jangka pendek.
Saxo Bank dalam laporan prospek 2026 bahkan membayangkan skenario di mana terobosan komputasi kuantum memicu kepanikan pasar keuangan dan mendorong harga emas melambung ke angka satu juta dolar. Penilaian risiko multidimensi ini mencerminkan tingginya perhatian pasar terhadap fungsi perlindungan emas.
Perputaran Dana: Modal Swasta Resmi Menggantikan Bank Sentral
Dalam struktur dana yang mendorong kenaikan harga emas, terjadi perubahan signifikan—ini juga menjadi alasan utama mengapa pandangan optimis tokoh otoritatif seperti Jim Rickards sangat masuk akal.
Daan Struyven, co-head riset komoditas global di Goldman Sachs, menegaskan posisi bullish dan menempatkan emas sebagai transaksi “paling yakin” di bank tersebut. Perubahan utama adalah, kelompok pembeli secara diam-diam sedang bergeser.
Meskipun pembelian emas oleh bank sentral pernah menjadi pendorong utama kenaikan pada 2023 dan 2024, sejak 2025 laju kenaikan didorong terutama oleh permintaan dari sektor swasta. Saat ini, investor swasta sedang mengalihkan portofolio mereka ke emas melalui ETF dan saluran diversifikasi lainnya. Data Goldman Sachs menunjukkan bahwa permintaan saat ini berasal dari perusahaan kekayaan swasta, manajer aset, hedge fund, dan investor pensiun.
Perpindahan dari cadangan resmi ke pembelian oleh modal swasta ini semakin memperkuat fondasi pasar untuk reli harga emas saat ini. Dibandingkan dengan siklus pembelian emas oleh bank sentral yang bersifat periodik, partisipasi sektor swasta menciptakan struktur permintaan yang lebih beragam dan sulit dibalikkan. Inilah alasan mendalam mengapa para ahli seperti Jim Rickards sangat percaya diri terhadap prospek jangka panjang harga emas.
Kenaikan harga emas yang “menggelegar” ini bukanlah fenomena sesaat, melainkan hasil dari ketidakseimbangan ekonomi global, meningkatnya ketegangan geopolitik, dan penyesuaian struktur modal secara bersamaan. Dari sudut pandang jangka panjang Jim Rickards, siklus besar ini baru saja dimulai.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Jim Rickards pandangan tentang siklus besar emas: Mengapa harga emas diperkirakan akan menembus USD 10.000 pada tahun 2026
Dalam konteks perubahan besar dalam pola geopolitik dan ekonomi global, emas sedang mendefinisikan kembali posisi strategisnya dalam portofolio investasi. Ekonom terkenal Jim Rickards dalam wawancara terbaru menyatakan bahwa berbagai faktor yang mendorong kenaikan pasar logam akan terus berpengaruh tahun ini, dan tidak akan terkejut jika harga emas mencapai 10.000 dolar AS pada 2026. Pandangan ini mencerminkan pengakuan mendalam dari elit Wall Street terhadap tren jangka panjang emas.
Emas spot baru-baru ini menembus level tertinggi sejarah, menembus rekor 4880 dolar AS per ons. Kenaikan ini langsung dipicu oleh langkah terbaru Gedung Putih terkait perdagangan internasional, yang membangkitkan kekhawatiran pasar terhadap gesekan perdagangan global. Hingga saat ini, emas spot berfluktuasi di sekitar 4860 dolar AS per ons. Setelah kenaikan historis lebih dari 60% pada 2025, emas melanjutkan momentum kuat tahun ini, menjadi instrumen yang paling menarik dalam alokasi aset.
Ketegangan geopolitik, penurunan suku bunga riil, serta diversifikasi portofolio oleh bank sentral dan investor swasta melalui “de-dolarisasi” — ketiga faktor ini secara bersama-sama mendorong harga emas naik. Dalam lingkungan makro seperti ini, peran emas sebagai “aset perlindungan terakhir” semakin diperkuat secara tak tertandingi.
Resonansi dari Pandangan Otoritatif: Ekspektasi dari 5000 ke 10000 Dolar AS
Performa harga emas yang kuat mendorong lembaga keuangan global untuk menyesuaikan kembali ekspektasi pasar. Survei LBMA menunjukkan bahwa analis yang diwawancarai secara umum memperkirakan harga emas akan menembus angka 5000 dolar AS. Sementara itu, pandangan para analis terus meningkat.
Julia Du, kepala strategi komoditas di ICBC Standard Bank, memperkirakan harga emas berpotensi melonjak hingga 7150 dolar AS. Prediksi yang lebih agresif bahkan mengarah ke angka lima digit. Ed Yardeni, pendiri Yardeni Research, mengajukan sebuah hipotesis menarik: jika indeks S&P 500 mencapai 10.000 poin di akhir dekade ini, emas sebagai alat penyeimbang portofolio kemungkinan juga akan mencapai 10.000 dolar AS per ons.
Ekonom Jim Rickards secara makro menyatakan pendapatnya. Ia menyebut saat ini sebagai “dekade 2020-an yang mengaum”, yang mencerminkan pengamatannya terhadap karakteristik zaman ini secara mendalam. Dalam siklus besar seperti ini, melewati angka satu juta dolar per ons bukanlah hal yang mustahil, melainkan hasil alami dari ketidakseimbangan makro dan ketidakpastian politik yang terus meningkat.
Sebuah survei dari Goldman Sachs semakin menguatkan konsensus bullish di pasar. 42% dari lembaga yang disurvei memperkirakan harga emas akan rebound ke kisaran 5000-6000 dolar, sementara 10% lainnya memandang lebih tinggi dari 6000 dolar. Suara bearish sangat minim, hanya sekitar satu digit persen. Posisi mayoritas yang sangat bullish ini menunjukkan bahwa pandangan Jim Rickards sangat selaras dengan arus utama pasar.
Permintaan Struktural Jangka Panjang Menggantikan Puncak Spekulatif
Dalam menilai reli harga emas ini, pertanyaan utama adalah: apakah ini merupakan puncak spekulatif, atau awal dari tren jangka panjang yang baru?
Nicky Shiels, kepala strategi logam mulia di MKS PAMP, memberikan jawaban tegas: siklus saat ini adalah tren jangka panjang, bukan puncak spekulatif. Ia memperkirakan harga emas akan mencapai 5400 dolar tahun ini, naik sekitar 30% dari kenaikan historis tahun lalu.
Shiels menegaskan bahwa ketegangan geopolitik tidak mereda, malah semakin menjadi norma baru. Dari aksi Amerika di Venezuela hingga klaim kontrol Washington atas Greenland, konflik-konflik terbaru ini semakin mendorong investor menuju emas. Dunia sedang memasuki era di mana kebutuhan untuk memastikan pasokan logam dan komoditas penting sangat mendesak, dan kebutuhan struktural ini akan menopang kenaikan harga emas lebih lanjut, tanpa menimbulkan fenomena “ledakan harga” jangka pendek.
Saxo Bank dalam laporan prospek 2026 bahkan membayangkan skenario di mana terobosan komputasi kuantum memicu kepanikan pasar keuangan dan mendorong harga emas melambung ke angka satu juta dolar. Penilaian risiko multidimensi ini mencerminkan tingginya perhatian pasar terhadap fungsi perlindungan emas.
Perputaran Dana: Modal Swasta Resmi Menggantikan Bank Sentral
Dalam struktur dana yang mendorong kenaikan harga emas, terjadi perubahan signifikan—ini juga menjadi alasan utama mengapa pandangan optimis tokoh otoritatif seperti Jim Rickards sangat masuk akal.
Daan Struyven, co-head riset komoditas global di Goldman Sachs, menegaskan posisi bullish dan menempatkan emas sebagai transaksi “paling yakin” di bank tersebut. Perubahan utama adalah, kelompok pembeli secara diam-diam sedang bergeser.
Meskipun pembelian emas oleh bank sentral pernah menjadi pendorong utama kenaikan pada 2023 dan 2024, sejak 2025 laju kenaikan didorong terutama oleh permintaan dari sektor swasta. Saat ini, investor swasta sedang mengalihkan portofolio mereka ke emas melalui ETF dan saluran diversifikasi lainnya. Data Goldman Sachs menunjukkan bahwa permintaan saat ini berasal dari perusahaan kekayaan swasta, manajer aset, hedge fund, dan investor pensiun.
Perpindahan dari cadangan resmi ke pembelian oleh modal swasta ini semakin memperkuat fondasi pasar untuk reli harga emas saat ini. Dibandingkan dengan siklus pembelian emas oleh bank sentral yang bersifat periodik, partisipasi sektor swasta menciptakan struktur permintaan yang lebih beragam dan sulit dibalikkan. Inilah alasan mendalam mengapa para ahli seperti Jim Rickards sangat percaya diri terhadap prospek jangka panjang harga emas.
Kenaikan harga emas yang “menggelegar” ini bukanlah fenomena sesaat, melainkan hasil dari ketidakseimbangan ekonomi global, meningkatnya ketegangan geopolitik, dan penyesuaian struktur modal secara bersamaan. Dari sudut pandang jangka panjang Jim Rickards, siklus besar ini baru saja dimulai.