Dalam berbagai peluang trading di pasar valuta asing, prediksi tren euro sebagai salah satu mata uang cadangan utama dunia sangat penting, terutama hubungan tukar euro dan yen yang sering mencerminkan perubahan mendalam dalam pola ekonomi global. Sebagai salah satu pasangan mata uang silang dengan volume trading tertinggi, EUR/JPY tidak hanya menawarkan peluang investasi unik di luar pasar spot, tetapi juga karena volatilitas dan likuiditasnya yang tinggi, menjadikannya fokus utama trader profesional. Jadi, faktor utama apa yang akan mempengaruhi prediksi tren euro pada tahun 2026? Dan peluang trading apa yang layak diperhatikan?
Euro dan Yen: Dua Mata Uang dengan Likuiditas Terkuat di Dunia
Euro (EUR) memiliki posisi internasional yang sangat penting. Sejak 1 Januari 1999, sebelas negara Uni Eropa memutuskan untuk menyatukan mata uang, dan pada 1 Januari 2002, euro secara resmi mulai beredar di kawasan euro, menggantikan mata uang nasional masing-masing. Kini, euro menjadi mata uang terbesar di Eropa dan salah satu cadangan devisa utama dunia.
Sementara itu, perjalanan internasionalisasi yen (JPY) sedikit berbeda. Sejak Jepang bergabung dengan IMF pada 1964, yen mulai digunakan secara bertahap dalam perdagangan internasional. Dengan lonjakan ekonomi Jepang dan statusnya sebagai ekonomi kedua terbesar dunia, serta implementasi kebebasan tukar yen, posisi internasional yen pun meningkat. Setelah gelembung ekonomi Jepang pecah di tahun 1990-an, Bank of Japan (BoJ) menerapkan kebijakan suku bunga nol dan pelonggaran moneter ekstrem, yang menyebabkan modal internasional banyak meminjam yen untuk berinvestasi dalam aset berimbal tinggi, menjadikan yen sebagai mata uang safe haven utama.
Pasangan EUR/JPY secara sederhana menunjukkan berapa banyak yen yang bisa diperoleh dengan satu euro. Meskipun tampak sederhana, nilai tukar ini mencerminkan pertarungan kebijakan ekonomi kedua kekuatan besar, risiko spread suku bunga, dan sentimen risiko global.
Mengapa Peluang Trading EUR/JPY Sangat Melimpah?
Berbeda dengan pasangan EUR/USD yang lebih likuid, EUR/JPY sering menunjukkan volatilitas lebih besar dalam periode tertentu, yang membuka peluang.
Contoh nyata terjadi pada 16 Maret 2023 saat keputusan ECB. Saat ECB mengumumkan kenaikan suku bunga sebesar 0,5%, pasar terkejut dengan langkah hawkish ini. Euro menguat, tetapi karena dolar AS tetap dalam siklus kenaikan suku bunga dan suku bunganya lebih tinggi dari euro, kenaikan EUR/USD tidak besar. Sebaliknya, karena yen tetap di level nol persen dan spread suku bunga tetap lebar, EUR/JPY dalam empat jam setelah pengumuman langsung naik 1,1%—delapan kali lipat dari kenaikan EUR/USD.
Fenomena ini didukung oleh strategi carry trade, di mana investor meminjam yen yang suku bunganya rendah dan menginvestasikan dalam aset euro yang berimbal tinggi, sehingga mendorong EUR/JPY naik. Sebaliknya, jika spread menyempit atau BoJ memberi sinyal perubahan kebijakan, banyak trader akan menutup posisi short yen secara kolektif, menyebabkan yen menguat secara tiba-tiba dan menekan EUR/JPY.
Selain itu, faktor fundamental seperti data ekonomi Eropa dan Jepang, kebijakan bank sentral, dan peristiwa geopolitik juga mempengaruhi peluang trading. EUR/JPY sangat berkorelasi positif dengan pasangan lain seperti EUR/USD, USD/JPY, dan GBP/JPY, sehingga trader dapat memanfaatkan strategi long atau short untuk meningkatkan keuntungan dan mengelola risiko.
Perkembangan Tren Euro: Perjalanan 20 Tahun
Untuk memahami arah tren euro saat ini, penting meninjau fluktuasi selama lebih dari dua dekade.
2002-2007: Ekonomi Eropa Melonjak, Euro Menguat
Setelah euro resmi beredar, lima tahun pertama menunjukkan pertumbuhan ekonomi Eropa yang pesat, sementara ekonomi Jepang tetap lemah. ECB dan BoJ menerapkan kebijakan berbeda, menyebabkan euro menguat tajam terhadap yen. Pada awal 2007, EUR/JPY mendekati puncak tertinggi sekitar 170.
2007 akhir – 2009 awal: Krisis Keuangan Global, Yen Sebagai Safe Haven
Krisis keuangan 2008 menyebabkan pasar panik dan dana mengalir ke yen sebagai safe haven. EUR/JPY jatuh tajam, dan awal 2009 turun ke sekitar 112.
2009-2012: Krisis Utang Zona Euro
Meski ekonomi mulai pulih, krisis utang euro pada 2010 menyebabkan euro tertekan. EUR/JPY berfluktuasi dan mencapai titik terendah sekitar 94 pada 2012.
2012-2016: Pemulihan Zona Euro dan Kebijakan Longgar Jepang
Sejak 2012, ekonomi zona euro membaik, dan kebijakan Abenomics Jepang yang agresif menyebabkan yen melemah. EUR/JPY naik ke puncak sekitar 149.
2016-2020: Era Pelonggaran ECB
ECB melonggarkan kebijakan untuk dorong pertumbuhan dan inflasi, menyebabkan euro melemah terhadap yen. EUR/JPY cenderung turun atau sideways.
2020-2023: Pandemi dan Siklus Inflasi
Pandemi COVID-19 memicu pelonggaran besar-besaran dan kenaikan risiko, tetapi sejak 2021, inflasi tinggi mendorong BoJ untuk mulai mempertimbangkan pengetatan. Tren EUR/JPY cenderung naik lagi, menandai periode penguatan euro.
Tiga Faktor Utama yang Menentukan Prediksi Tren Euro
Memahami sejarah membantu mengidentifikasi faktor utama yang akan mempengaruhi euro ke depan.
1. Data Ekonomi dan Kebijakan Bank Sentral yang Berbeda
Pertumbuhan GDP, inflasi, dan tingkat pengangguran di zona euro dan Jepang mencerminkan kesehatan ekonomi mereka. Ketika ekonomi zona euro membaik dan pengangguran menurun, euro cenderung menguat. Jika data Jepang tetap datar, euro akan menguat terhadap yen.
Lebih penting lagi, perbedaan kebijakan bank sentral. ECB saat ini bersikap hawkish dan menaikkan suku bunga, bahkan di tengah krisis perbankan, sedangkan BoJ tetap mempertahankan kebijakan longgar. Perbedaan ini menjadi pendorong utama euro menguat. Analisis dari Citi juga memperkirakan ECB akan mempercepat pengetatan, mendukung tren naik euro.
2. Risiko Pembalikan Spread Suku Bunga
Strategi carry trade bergantung pada spread suku bunga. Saat BoJ mempertahankan suku bunga nol dan ECB menaikkan, trader meminjam yen dan menginvestasikan dalam euro. Tapi, jika BoJ mulai mengubah kebijakan karena inflasi tinggi, spread akan menyempit dan trader akan menutup posisi short yen secara besar-besaran, menyebabkan yen menguat dan EUR/JPY turun. Saat ini, Jepang menghadapi inflasi tinggi dan BoJ harus mempertimbangkan pengetatan. Jika BoJ mengumumkan perubahan, akan terjadi gelombang pelepasan posisi dan yen akan menguat tajam, menandai risiko terbesar dalam prediksi tren euro.
3. Faktor Geopolitik dan Sentimen Risiko Global
Peristiwa politik internasional, ketegangan geopolitik, dan ketidakpastian ekonomi global mempengaruhi preferensi risiko pasar. Ketika ketidakpastian meningkat, investor cenderung menjual aset berisiko dan beralih ke yen sebagai safe haven, menekan EUR/JPY.
Perlu juga memperhatikan kebijakan OPEC. Pada April 2023, OPEC mengumumkan pengurangan produksi yang mendorong harga minyak naik, meningkatkan inflasi dan kemungkinan mempercepat pengetatan kebijakan BoJ.
Penggunaan Indikator Teknik dalam Prediksi Tren EUR/JPY
Selain analisis fundamental, indikator teknikal membantu mengidentifikasi peluang trading.
Strategi RSI Overbought dan Rebound
RSI (Relative Strength Index) mengukur kondisi overbought/oversold. Pada Juni 2021, RSI EUR/JPY melewati 70 ke wilayah overbought. Pada Juli 2021, RSI kembali turun di bawah 70 dan naik ke tengah (50), menandakan sinyal untuk menutup posisi long. Harga dari 132.774 turun ke 129.899, menghasilkan keuntungan sekitar 287.500 yen per kontrak 100.000 euro.
MACD Golden Cross dan Death Cross
MACD (Moving Average Convergence Divergence) adalah indikator kekuatan tren. Pada 14 Maret 2022, MACD menunjukkan golden cross di EUR/JPY, sinyal beli. Setelah 19 hari trading, muncul death cross pada 8 April, menandakan saatnya tutup posisi. Dari 135.161 ke 129.271, keuntungan sekitar 589.000 yen per kontrak.
Penggabungan indikator seperti garis tren, moving average, dan Fibonacci retracement dapat meningkatkan akurasi trading, tetapi harus dikonfirmasi dengan fundamental.
Prediksi Tren Euro 2026: Titik Persimpangan Kebijakan Bank Sentral
Ke depan, prediksi tren euro sangat bergantung pada ketidakpastian kebijakan kedua bank sentral.
Secara jangka pendek, ECB tetap hawkish dan tidak menunjukkan pelonggaran, bahkan di tengah risiko perbankan. Hal ini mendukung euro menguat dan berpotensi kembali ke level tertinggi sekitar 148,4 yang dicapai Oktober 2025. Tren naik masih terbuka.
Namun, dalam jangka menengah dan panjang, titik kritis adalah kemungkinan perubahan kebijakan BoJ. Dengan inflasi tinggi dan harga minyak yang tinggi akibat pengurangan produksi OPEC, BoJ di bawah pimpinan Ueda mungkin mulai mempertimbangkan pengetatan. Jika ini terjadi, akan memicu gelombang pelepasan posisi carry trade dan yen menguat secara besar-besaran, menempatkan EUR/JPY dalam tren turun jangka panjang. Ini adalah tantangan terbesar dalam prediksi tren euro.
Strategi Praktis Menghadapi Prediksi Tren EUR/JPY
Bagi trader yang ingin berpartisipasi dalam trading EUR/JPY, berikut beberapa strategi yang bisa dipertimbangkan:
Pantau Data Ekonomi dan Kebijakan Bank Sentral
Perhatikan data CPI, GDP, dan pengangguran di zona euro dan Jepang. Ketika data melebihi ekspektasi, mata uang cenderung menguat. Data ini menjadi indikator utama tren euro.
Interpretasi Sinyal Kebijakan
Keputusan kenaikan suku bunga dan pernyataan pejabat bank sentral sangat mempengaruhi pasar. Kenaikan suku bunga mendorong penguatan mata uang, sedangkan pernyataan dovish bisa memicu koreksi. Penting membangun kerangka prediksi jadwal kebijakan kedua bank sentral.
Gabungkan Indikator Teknik untuk Operasi Presisi
Trading jangka pendek bisa menggunakan grafik harian: saat harga menyentuh resistance tren naik, konfirmasi RSI melewati 70 dan kembali turun, atau MACD muncul death cross, bisa pertimbangkan ambil posisi profit atau kurangi posisi. Targetkan stop loss di sekitar level RSI tengah atau channel, dan gunakan level tertinggi 146,76 (Desember 2025) sebagai acuan stop loss.
Waspadai Perubahan Kebijakan Jangka Menengah dan Panjang
Perubahan kebijakan BoJ adalah faktor utama dalam prediksi tren euro. Trader harus memantau data inflasi Jepang dan pernyataan pejabat BoJ. Jika sinyal perubahan muncul, bersiaplah berbalik dari posisi long ke short—karena ini bisa menjadi peluang short jangka panjang selama satu dekade.
Secara keseluruhan, prediksi tren euro tidak bisa hanya mengandalkan analisis teknikal atau fundamental saja. Kesempatan terbaik muncul dari pemahaman menyeluruh terhadap kebijakan, siklus ekonomi, dan psikologi pasar. Di titik persimpangan kebijakan bank sentral, siapa yang lebih cepat menangkap perubahan akan mendapatkan keunggulan dalam pasar EUR/JPY yang penuh peluang ini.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Perkiraan Tren Euro 2026: Bagaimana Kebijakan Bank Sentral Mengendalikan Masa Depan Pasangan Euro-Jepang
Dalam berbagai peluang trading di pasar valuta asing, prediksi tren euro sebagai salah satu mata uang cadangan utama dunia sangat penting, terutama hubungan tukar euro dan yen yang sering mencerminkan perubahan mendalam dalam pola ekonomi global. Sebagai salah satu pasangan mata uang silang dengan volume trading tertinggi, EUR/JPY tidak hanya menawarkan peluang investasi unik di luar pasar spot, tetapi juga karena volatilitas dan likuiditasnya yang tinggi, menjadikannya fokus utama trader profesional. Jadi, faktor utama apa yang akan mempengaruhi prediksi tren euro pada tahun 2026? Dan peluang trading apa yang layak diperhatikan?
Euro dan Yen: Dua Mata Uang dengan Likuiditas Terkuat di Dunia
Euro (EUR) memiliki posisi internasional yang sangat penting. Sejak 1 Januari 1999, sebelas negara Uni Eropa memutuskan untuk menyatukan mata uang, dan pada 1 Januari 2002, euro secara resmi mulai beredar di kawasan euro, menggantikan mata uang nasional masing-masing. Kini, euro menjadi mata uang terbesar di Eropa dan salah satu cadangan devisa utama dunia.
Sementara itu, perjalanan internasionalisasi yen (JPY) sedikit berbeda. Sejak Jepang bergabung dengan IMF pada 1964, yen mulai digunakan secara bertahap dalam perdagangan internasional. Dengan lonjakan ekonomi Jepang dan statusnya sebagai ekonomi kedua terbesar dunia, serta implementasi kebebasan tukar yen, posisi internasional yen pun meningkat. Setelah gelembung ekonomi Jepang pecah di tahun 1990-an, Bank of Japan (BoJ) menerapkan kebijakan suku bunga nol dan pelonggaran moneter ekstrem, yang menyebabkan modal internasional banyak meminjam yen untuk berinvestasi dalam aset berimbal tinggi, menjadikan yen sebagai mata uang safe haven utama.
Pasangan EUR/JPY secara sederhana menunjukkan berapa banyak yen yang bisa diperoleh dengan satu euro. Meskipun tampak sederhana, nilai tukar ini mencerminkan pertarungan kebijakan ekonomi kedua kekuatan besar, risiko spread suku bunga, dan sentimen risiko global.
Mengapa Peluang Trading EUR/JPY Sangat Melimpah?
Berbeda dengan pasangan EUR/USD yang lebih likuid, EUR/JPY sering menunjukkan volatilitas lebih besar dalam periode tertentu, yang membuka peluang.
Contoh nyata terjadi pada 16 Maret 2023 saat keputusan ECB. Saat ECB mengumumkan kenaikan suku bunga sebesar 0,5%, pasar terkejut dengan langkah hawkish ini. Euro menguat, tetapi karena dolar AS tetap dalam siklus kenaikan suku bunga dan suku bunganya lebih tinggi dari euro, kenaikan EUR/USD tidak besar. Sebaliknya, karena yen tetap di level nol persen dan spread suku bunga tetap lebar, EUR/JPY dalam empat jam setelah pengumuman langsung naik 1,1%—delapan kali lipat dari kenaikan EUR/USD.
Fenomena ini didukung oleh strategi carry trade, di mana investor meminjam yen yang suku bunganya rendah dan menginvestasikan dalam aset euro yang berimbal tinggi, sehingga mendorong EUR/JPY naik. Sebaliknya, jika spread menyempit atau BoJ memberi sinyal perubahan kebijakan, banyak trader akan menutup posisi short yen secara kolektif, menyebabkan yen menguat secara tiba-tiba dan menekan EUR/JPY.
Selain itu, faktor fundamental seperti data ekonomi Eropa dan Jepang, kebijakan bank sentral, dan peristiwa geopolitik juga mempengaruhi peluang trading. EUR/JPY sangat berkorelasi positif dengan pasangan lain seperti EUR/USD, USD/JPY, dan GBP/JPY, sehingga trader dapat memanfaatkan strategi long atau short untuk meningkatkan keuntungan dan mengelola risiko.
Perkembangan Tren Euro: Perjalanan 20 Tahun
Untuk memahami arah tren euro saat ini, penting meninjau fluktuasi selama lebih dari dua dekade.
2002-2007: Ekonomi Eropa Melonjak, Euro Menguat
Setelah euro resmi beredar, lima tahun pertama menunjukkan pertumbuhan ekonomi Eropa yang pesat, sementara ekonomi Jepang tetap lemah. ECB dan BoJ menerapkan kebijakan berbeda, menyebabkan euro menguat tajam terhadap yen. Pada awal 2007, EUR/JPY mendekati puncak tertinggi sekitar 170.
2007 akhir – 2009 awal: Krisis Keuangan Global, Yen Sebagai Safe Haven
Krisis keuangan 2008 menyebabkan pasar panik dan dana mengalir ke yen sebagai safe haven. EUR/JPY jatuh tajam, dan awal 2009 turun ke sekitar 112.
2009-2012: Krisis Utang Zona Euro
Meski ekonomi mulai pulih, krisis utang euro pada 2010 menyebabkan euro tertekan. EUR/JPY berfluktuasi dan mencapai titik terendah sekitar 94 pada 2012.
2012-2016: Pemulihan Zona Euro dan Kebijakan Longgar Jepang
Sejak 2012, ekonomi zona euro membaik, dan kebijakan Abenomics Jepang yang agresif menyebabkan yen melemah. EUR/JPY naik ke puncak sekitar 149.
2016-2020: Era Pelonggaran ECB
ECB melonggarkan kebijakan untuk dorong pertumbuhan dan inflasi, menyebabkan euro melemah terhadap yen. EUR/JPY cenderung turun atau sideways.
2020-2023: Pandemi dan Siklus Inflasi
Pandemi COVID-19 memicu pelonggaran besar-besaran dan kenaikan risiko, tetapi sejak 2021, inflasi tinggi mendorong BoJ untuk mulai mempertimbangkan pengetatan. Tren EUR/JPY cenderung naik lagi, menandai periode penguatan euro.
Tiga Faktor Utama yang Menentukan Prediksi Tren Euro
Memahami sejarah membantu mengidentifikasi faktor utama yang akan mempengaruhi euro ke depan.
1. Data Ekonomi dan Kebijakan Bank Sentral yang Berbeda
Pertumbuhan GDP, inflasi, dan tingkat pengangguran di zona euro dan Jepang mencerminkan kesehatan ekonomi mereka. Ketika ekonomi zona euro membaik dan pengangguran menurun, euro cenderung menguat. Jika data Jepang tetap datar, euro akan menguat terhadap yen.
Lebih penting lagi, perbedaan kebijakan bank sentral. ECB saat ini bersikap hawkish dan menaikkan suku bunga, bahkan di tengah krisis perbankan, sedangkan BoJ tetap mempertahankan kebijakan longgar. Perbedaan ini menjadi pendorong utama euro menguat. Analisis dari Citi juga memperkirakan ECB akan mempercepat pengetatan, mendukung tren naik euro.
2. Risiko Pembalikan Spread Suku Bunga
Strategi carry trade bergantung pada spread suku bunga. Saat BoJ mempertahankan suku bunga nol dan ECB menaikkan, trader meminjam yen dan menginvestasikan dalam euro. Tapi, jika BoJ mulai mengubah kebijakan karena inflasi tinggi, spread akan menyempit dan trader akan menutup posisi short yen secara besar-besaran, menyebabkan yen menguat dan EUR/JPY turun. Saat ini, Jepang menghadapi inflasi tinggi dan BoJ harus mempertimbangkan pengetatan. Jika BoJ mengumumkan perubahan, akan terjadi gelombang pelepasan posisi dan yen akan menguat tajam, menandai risiko terbesar dalam prediksi tren euro.
3. Faktor Geopolitik dan Sentimen Risiko Global
Peristiwa politik internasional, ketegangan geopolitik, dan ketidakpastian ekonomi global mempengaruhi preferensi risiko pasar. Ketika ketidakpastian meningkat, investor cenderung menjual aset berisiko dan beralih ke yen sebagai safe haven, menekan EUR/JPY.
Perlu juga memperhatikan kebijakan OPEC. Pada April 2023, OPEC mengumumkan pengurangan produksi yang mendorong harga minyak naik, meningkatkan inflasi dan kemungkinan mempercepat pengetatan kebijakan BoJ.
Penggunaan Indikator Teknik dalam Prediksi Tren EUR/JPY
Selain analisis fundamental, indikator teknikal membantu mengidentifikasi peluang trading.
Strategi RSI Overbought dan Rebound
RSI (Relative Strength Index) mengukur kondisi overbought/oversold. Pada Juni 2021, RSI EUR/JPY melewati 70 ke wilayah overbought. Pada Juli 2021, RSI kembali turun di bawah 70 dan naik ke tengah (50), menandakan sinyal untuk menutup posisi long. Harga dari 132.774 turun ke 129.899, menghasilkan keuntungan sekitar 287.500 yen per kontrak 100.000 euro.
MACD Golden Cross dan Death Cross
MACD (Moving Average Convergence Divergence) adalah indikator kekuatan tren. Pada 14 Maret 2022, MACD menunjukkan golden cross di EUR/JPY, sinyal beli. Setelah 19 hari trading, muncul death cross pada 8 April, menandakan saatnya tutup posisi. Dari 135.161 ke 129.271, keuntungan sekitar 589.000 yen per kontrak.
Penggabungan indikator seperti garis tren, moving average, dan Fibonacci retracement dapat meningkatkan akurasi trading, tetapi harus dikonfirmasi dengan fundamental.
Prediksi Tren Euro 2026: Titik Persimpangan Kebijakan Bank Sentral
Ke depan, prediksi tren euro sangat bergantung pada ketidakpastian kebijakan kedua bank sentral.
Secara jangka pendek, ECB tetap hawkish dan tidak menunjukkan pelonggaran, bahkan di tengah risiko perbankan. Hal ini mendukung euro menguat dan berpotensi kembali ke level tertinggi sekitar 148,4 yang dicapai Oktober 2025. Tren naik masih terbuka.
Namun, dalam jangka menengah dan panjang, titik kritis adalah kemungkinan perubahan kebijakan BoJ. Dengan inflasi tinggi dan harga minyak yang tinggi akibat pengurangan produksi OPEC, BoJ di bawah pimpinan Ueda mungkin mulai mempertimbangkan pengetatan. Jika ini terjadi, akan memicu gelombang pelepasan posisi carry trade dan yen menguat secara besar-besaran, menempatkan EUR/JPY dalam tren turun jangka panjang. Ini adalah tantangan terbesar dalam prediksi tren euro.
Strategi Praktis Menghadapi Prediksi Tren EUR/JPY
Bagi trader yang ingin berpartisipasi dalam trading EUR/JPY, berikut beberapa strategi yang bisa dipertimbangkan:
Pantau Data Ekonomi dan Kebijakan Bank Sentral
Perhatikan data CPI, GDP, dan pengangguran di zona euro dan Jepang. Ketika data melebihi ekspektasi, mata uang cenderung menguat. Data ini menjadi indikator utama tren euro.
Interpretasi Sinyal Kebijakan
Keputusan kenaikan suku bunga dan pernyataan pejabat bank sentral sangat mempengaruhi pasar. Kenaikan suku bunga mendorong penguatan mata uang, sedangkan pernyataan dovish bisa memicu koreksi. Penting membangun kerangka prediksi jadwal kebijakan kedua bank sentral.
Gabungkan Indikator Teknik untuk Operasi Presisi
Trading jangka pendek bisa menggunakan grafik harian: saat harga menyentuh resistance tren naik, konfirmasi RSI melewati 70 dan kembali turun, atau MACD muncul death cross, bisa pertimbangkan ambil posisi profit atau kurangi posisi. Targetkan stop loss di sekitar level RSI tengah atau channel, dan gunakan level tertinggi 146,76 (Desember 2025) sebagai acuan stop loss.
Waspadai Perubahan Kebijakan Jangka Menengah dan Panjang
Perubahan kebijakan BoJ adalah faktor utama dalam prediksi tren euro. Trader harus memantau data inflasi Jepang dan pernyataan pejabat BoJ. Jika sinyal perubahan muncul, bersiaplah berbalik dari posisi long ke short—karena ini bisa menjadi peluang short jangka panjang selama satu dekade.
Secara keseluruhan, prediksi tren euro tidak bisa hanya mengandalkan analisis teknikal atau fundamental saja. Kesempatan terbaik muncul dari pemahaman menyeluruh terhadap kebijakan, siklus ekonomi, dan psikologi pasar. Di titik persimpangan kebijakan bank sentral, siapa yang lebih cepat menangkap perubahan akan mendapatkan keunggulan dalam pasar EUR/JPY yang penuh peluang ini.