Politik geopolitik Timur Tengah: Apakah Bitcoin adalah "Perlindungan" atau Aset Berisiko?


Ketegangan di Timur Tengah sekali lagi menimbulkan pertanyaan tentang sifat Bitcoin dalam portofolio investasi. Alih-alih berperan sebagai emas digital untuk berlindung saat konflik meletus, Bitcoin pada periode 2025-2026 justru bereaksi seperti aset berisiko (risk assets). Ketika harga minyak mentah melonjak tinggi menimbulkan kekhawatiran inflasi, Bitcoin langsung mengalami penurunan. #Colecolen
Analisis menunjukkan korelasi antara Bitcoin dan indeks saham seperti Nasdaq masih sangat tinggi. Para investor saat ini menganggap inflasi dan suku bunga sebagai hambatan terbesar, dan karena konflik geopolitik langsung mendorong harga energi naik, hal ini secara tidak sengaja menjadi faktor negatif bagi mata uang kripto. Pasar saat ini memperkirakan hanya ada peluang 49% untuk terjadinya gencatan senjata sebelum bulan April, menunjukkan ketidakpastian ini akan berlangsung lebih lama. Sampai Bitcoin dapat memisahkan diri dari pergerakan pasar keuangan tradisional, ia akan tetap menghadapi tekanan ganda: kekhawatiran akan risiko perang dan kekhawatiran terhadap kebijakan pengetatan moneter dari Fed akibat inflasi energi. $BTC
BTC7,68%
Lihat Asli
post-image
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan

Perdagangkan Kripto Di Mana Saja Kapan Saja
qrCode
Pindai untuk mengunduh aplikasi Gate
Komunitas
Bahasa Indonesia
  • 简体中文
  • English
  • Tiếng Việt
  • 繁體中文
  • Español
  • Русский
  • Français (Afrique)
  • Português (Portugal)
  • Bahasa Indonesia
  • 日本語
  • بالعربية
  • Українська
  • Português (Brasil)