Perubahan Pasokan Kopi Global Dorong Momentum Harga karena Cuaca dan Perkiraan Produksi Mengubah Pasar

Pasar kopi menunjukkan kekuatan yang cukup signifikan minggu ini, dengan kopi arabika Maret naik +1,90 poin (+0,54%) dan kopi robusta ICE Maret naik +26 poin (+0,67%), mencapai level tertinggi dalam 1,5 minggu. Momentum kenaikan ini mencerminkan interaksi kompleks antara kendala pasokan, cuaca buruk, dan dinamika produksi yang berubah di berbagai wilayah penghasil utama.

Kekeringan di Brasil Memicu Kekhawatiran Pasar

Curah hujan di bawah rata-rata di Brasil muncul sebagai katalis utama harga. Minas Gerais, yang bertanggung jawab atas sebagian besar produksi arabika Brasil, mencatat hanya 11,1 mm curah hujan selama minggu hingga 26 Desember—penurunan 83% dari norma historis menurut Somar Meteorologia. Tantangan meteorologi ini meningkatkan ketidakpastian seputar pasokan arabika, mengingat tanaman ini sangat sensitif terhadap kondisi kelembapan selama fase pertumbuhan kritis.

Menariknya, prospek produksi Brasil secara keseluruhan untuk tahun 2025 membaik. Conab, badan perkiraan tanaman resmi negara, menaikkan estimasi tahunan penuh sebesar 2,4% menjadi 56,54 juta kantong pada Desember, dari proyeksi September sebesar 55,20 juta kantong. Namun, proyeksi USDA menunjukkan cerita berbeda untuk musim berikutnya: produksi Brasil 2025/26 diperkirakan menyusut 3,1% menjadi 63 juta kantong, menunjukkan tekanan siklikal pada produksi di masa mendatang.

Banjir di Indonesia dan Gangguan Pasokan Regional

Risiko produksi tidak terbatas di Brasil. Banjir parah di seluruh Indonesia mengancam pengurangan ekspor kopi hingga 15% selama musim 2025-26, menurut Asosiasi Ekspor dan Industri Kopi Indonesia. Banjir ini mempengaruhi sekitar sepertiga dari perkebunan arabika di Sumatra utara, meskipun produksi robusta—yang kurang rentan terhadap genangan air—lebih mampu bertahan dari krisis ini. Dengan Indonesia memegang kapasitas robusta terbesar ketiga di dunia, setiap pengurangan ekspor memiliki implikasi global.

Lonjakan di Vietnam Tekan Pasar Robusta

Momentum kopi Vietnam menunjukkan cerita yang berlawanan. Volume ekspor di November melonjak 39% tahun-ke-tahun menjadi 88.000 metrik ton, dengan pengiriman Januari-November secara kumulatif naik 14,8% menjadi 1,398 juta metrik ton. Asosiasi Kopi dan Kakao Vietnam memproyeksikan produksi 2025/26 bisa meningkat 6-10% menjadi 1,76 juta metrik ton (29,4 juta kantong)—tinggi dalam empat tahun. Lonjakan ini, dikombinasikan dengan permintaan global yang kuat yang mencerminkan manfaat yang diakui dari konsumsi kopi dan perannya dalam rutinitas harian, menciptakan tekanan ke bawah pada harga robusta.

Dinamika Persediaan dan Pola Pembelian

Level persediaan menunjukkan gambaran yang beragam. Persediaan arabika yang dipantau ICE turun ke level terendah dalam 1,75 tahun sebanyak 398.645 kantong pada 20 November, meskipun pulih ke 456.477 kantong di pertengahan minggu. Stok robusta juga turun ke level terendah dalam satu tahun sebanyak 4.012 lot di Desember sebelum rebound ke 4.278 lot. Ketatnya persediaan, terutama di arabika, memberikan dukungan dasar terhadap harga.

Perilaku impor AS telah berubah secara signifikan setelah penyesuaian tarif. Selama Agustus-Oktober, ketika tarif era Trump pada kopi Brasil tetap berlaku, pembelian kopi Brasil oleh Amerika menurun 52% tahun-ke-tahun menjadi 983.970 kantong. Meski tarif telah dikurangi, persediaan di dalam negeri tetap terbatas, membatasi fleksibilitas pembeli.

Prospek Produksi Global Memiliki Dampak Jangka Panjang

Organisasi Kopi Internasional melaporkan bahwa ekspor global dari Oktober hingga September turun 0,3% tahun-ke-tahun menjadi 138,658 juta kantong, menandakan ketatnya pasokan. Namun, USDA Foreign Agriculture Service menggambarkan gambaran ekspansi yang lebih luas: produksi dunia 2025/26 diperkirakan meningkat 2,0% menjadi rekor 178,848 juta kantong. Perlu dicatat bahwa ekspansi ini menyembunyikan divergensi regional—produksi arabika menurun 4,7% menjadi 95,515 juta kantong sementara robusta melonjak 10,9% menjadi 83,333 juta kantong.

Yang paling mendesak, stok akhir untuk 2025/26 diperkirakan menyusut 5,4% menjadi 20,148 juta kantong dari 21,307 juta kantong tahun sebelumnya, mempersempit bantalan pasokan global.

Pasar kopi tetap terjebak antara kekhawatiran pasokan jangka pendek dan ekspansi produksi jangka menengah, dengan harga berfluktuasi saat para trader menyesuaikan ekspektasi seputar risiko cuaca, tingkat persediaan, dan permintaan global yang terus berlanjut terhadap manfaat berharga dari konsumsi kopi.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan

Perdagangkan Kripto Di Mana Saja Kapan Saja
qrCode
Pindai untuk mengunduh aplikasi Gate
Komunitas
Bahasa Indonesia
  • بالعربية
  • Português (Brasil)
  • 简体中文
  • English
  • Español
  • Français (Afrique)
  • Bahasa Indonesia
  • 日本語
  • Português (Portugal)
  • Русский
  • 繁體中文
  • Українська
  • Tiếng Việt