Dalam sebuah konferensi fintech terbaru yang diadakan di Washington, Brad Garlinghouse, eksekutif tertinggi Ripple, secara langsung menghadapi salah satu kesalahpahaman paling umum di ekosistem cryptocurrency: gagasan bahwa Ripple mengendalikan XRP. Selama pidatonya, dia menjelaskan bahwa XRP berfungsi sebagai proyek yang sepenuhnya terdesentralisasi, dikembangkan secara kolaboratif oleh ratusan programmer dan institusi independen, tanpa otoritas pusat yang mengarahinya.
Realitas di balik XRP: Kode sumber terbuka tanpa pemilik
Garlinghouse menjelaskan dengan sangat jelas perbedaan mendasar antara Ripple sebagai perusahaan dan XRP sebagai protokol. Meskipun dia secara efektif adalah CEO Ripple, jaringan XRP beroperasi berdasarkan prinsip yang sama sekali berbeda. Teknologi ini dibangun oleh banyak pengembang yang bekerja secara paralel, bukan di bawah perintah satu korporasi. Struktur ini yang memungkinkan XRP benar-benar terdesentralisasi, lebih dari apa yang dipahami banyak investor.
Eksekutif menekankan bahwa perbedaan ini bukanlah detail teknis kecil, melainkan sangat penting untuk memahami apa sebenarnya XRP. Jaringan ini berfungsi sebagai infrastruktur publik, tersedia bagi siapa saja, bank, atau inovator untuk menggunakannya tanpa bergantung pada persetujuan Ripple.
Tata kelola dalam praktik: Validator, bukan korporasi
Inti dari desentralisasi XRP terletak pada model tata kelolanya. (XRPL) tetap beroperasi melalui jaringan validator independen, yang tidak dikendalikan oleh Ripple. Keputusan tentang perubahan protokol memerlukan konsensus luas di antara validator ini, menciptakan sistem di mana tidak ada entitas yang dapat memaksakan kehendaknya secara sepihak.
Garlinghouse menyoroti satu poin yang sangat mengungkapkan: dalam beberapa kesempatan, komunitas validator telah menyetujui proposal yang tidak didukung oleh Ripple. Precedent ini menunjukkan secara praktis bahwa kekuasaan pengambilan keputusan benar-benar berada di jaringan, bukan di perusahaan. Struktur ini menjadikan XRP salah satu blockchain yang paling seimbang, menggabungkan efisiensi operasional dengan desentralisasi sejati.
Investasi miliaran dalam kejelasan regulasi
Untuk memperkuat argumennya, Garlinghouse mengingatkan tentang upaya besar Ripple dalam sengketa dengan (SEC). Perusahaan telah menginvestasikan lebih dari $150 juta dalam litigasi untuk menetapkan bahwa XRP bukanlah sekuritas keuangan tradisional, melainkan cryptocurrency yang independen.
Namun, menurut CEO, litigasi ini melampaui kepentingan Ripple. Garlinghouse menggambarkannya sebagai perjuangan untuk seluruh industri, berusaha agar setiap pembangun di ruang cryptocurrency dapat berinovasi tanpa takut terhadap regulasi kuno atau interpretasi yang samar dari otoritas. Investasi besar ini mencerminkan komitmen Ripple terhadap ekosistem yang lebih luas, bukan hanya terhadap kepentingan bisnisnya sendiri.
XRP di era Web3: Infrastruktur, bukan kendali
Dengan peran yang jelas dan teknologi yang dipandu oleh konsensus komunitas, XRP terus berkembang sebagai alat infrastruktur digital. Manfaatnya meluas ke pembayaran internasional, transaksi perbankan, dan aplikasi terdesentralisasi dalam ekonomi Web3.
Garlinghouse menutup pidatonya dengan premis sederhana namun kuat: tujuan Ripple tidak pernah untuk memonopoli XRP. Sebaliknya, visi mereka adalah membantu pasar memahami potensi nyata dari blockchain yang benar-benar terbuka, di mana inovasi berkembang tanpa perantara korporat yang menghambat kemajuan.
Peringatan penting: Informasi dan analisis yang disajikan di sini bersifat edukatif semata dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Konten artikel ini tidak boleh diartikan sebagai nasihat keuangan atau investasi. Berinvestasi dalam cryptocurrency mengandung risiko signifikan dan dapat mengakibatkan kerugian keuangan yang besar.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Siapa yang benar-benar mengendalikan XRP? Brad Garlinghouse menjelaskan mitos tentang Ripple
Dalam sebuah konferensi fintech terbaru yang diadakan di Washington, Brad Garlinghouse, eksekutif tertinggi Ripple, secara langsung menghadapi salah satu kesalahpahaman paling umum di ekosistem cryptocurrency: gagasan bahwa Ripple mengendalikan XRP. Selama pidatonya, dia menjelaskan bahwa XRP berfungsi sebagai proyek yang sepenuhnya terdesentralisasi, dikembangkan secara kolaboratif oleh ratusan programmer dan institusi independen, tanpa otoritas pusat yang mengarahinya.
Realitas di balik XRP: Kode sumber terbuka tanpa pemilik
Garlinghouse menjelaskan dengan sangat jelas perbedaan mendasar antara Ripple sebagai perusahaan dan XRP sebagai protokol. Meskipun dia secara efektif adalah CEO Ripple, jaringan XRP beroperasi berdasarkan prinsip yang sama sekali berbeda. Teknologi ini dibangun oleh banyak pengembang yang bekerja secara paralel, bukan di bawah perintah satu korporasi. Struktur ini yang memungkinkan XRP benar-benar terdesentralisasi, lebih dari apa yang dipahami banyak investor.
Eksekutif menekankan bahwa perbedaan ini bukanlah detail teknis kecil, melainkan sangat penting untuk memahami apa sebenarnya XRP. Jaringan ini berfungsi sebagai infrastruktur publik, tersedia bagi siapa saja, bank, atau inovator untuk menggunakannya tanpa bergantung pada persetujuan Ripple.
Tata kelola dalam praktik: Validator, bukan korporasi
Inti dari desentralisasi XRP terletak pada model tata kelolanya. (XRPL) tetap beroperasi melalui jaringan validator independen, yang tidak dikendalikan oleh Ripple. Keputusan tentang perubahan protokol memerlukan konsensus luas di antara validator ini, menciptakan sistem di mana tidak ada entitas yang dapat memaksakan kehendaknya secara sepihak.
Garlinghouse menyoroti satu poin yang sangat mengungkapkan: dalam beberapa kesempatan, komunitas validator telah menyetujui proposal yang tidak didukung oleh Ripple. Precedent ini menunjukkan secara praktis bahwa kekuasaan pengambilan keputusan benar-benar berada di jaringan, bukan di perusahaan. Struktur ini menjadikan XRP salah satu blockchain yang paling seimbang, menggabungkan efisiensi operasional dengan desentralisasi sejati.
Investasi miliaran dalam kejelasan regulasi
Untuk memperkuat argumennya, Garlinghouse mengingatkan tentang upaya besar Ripple dalam sengketa dengan (SEC). Perusahaan telah menginvestasikan lebih dari $150 juta dalam litigasi untuk menetapkan bahwa XRP bukanlah sekuritas keuangan tradisional, melainkan cryptocurrency yang independen.
Namun, menurut CEO, litigasi ini melampaui kepentingan Ripple. Garlinghouse menggambarkannya sebagai perjuangan untuk seluruh industri, berusaha agar setiap pembangun di ruang cryptocurrency dapat berinovasi tanpa takut terhadap regulasi kuno atau interpretasi yang samar dari otoritas. Investasi besar ini mencerminkan komitmen Ripple terhadap ekosistem yang lebih luas, bukan hanya terhadap kepentingan bisnisnya sendiri.
XRP di era Web3: Infrastruktur, bukan kendali
Dengan peran yang jelas dan teknologi yang dipandu oleh konsensus komunitas, XRP terus berkembang sebagai alat infrastruktur digital. Manfaatnya meluas ke pembayaran internasional, transaksi perbankan, dan aplikasi terdesentralisasi dalam ekonomi Web3.
Garlinghouse menutup pidatonya dengan premis sederhana namun kuat: tujuan Ripple tidak pernah untuk memonopoli XRP. Sebaliknya, visi mereka adalah membantu pasar memahami potensi nyata dari blockchain yang benar-benar terbuka, di mana inovasi berkembang tanpa perantara korporat yang menghambat kemajuan.
Peringatan penting: Informasi dan analisis yang disajikan di sini bersifat edukatif semata dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Konten artikel ini tidak boleh diartikan sebagai nasihat keuangan atau investasi. Berinvestasi dalam cryptocurrency mengandung risiko signifikan dan dapat mengakibatkan kerugian keuangan yang besar.